Perkuat Pendidikan Inklusif Berbasis AI, Bulungan Luncurkan JEJOO

MENCOBA : Bupati Bulungan Syarwani saat mencoba JEJOO dalam kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Tenguyun Kantor Bupati Bulungan.

BulunganKU.ID – Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, kini menjadi sorotan nasional dan internasional sebagai pelopor inovasi dalam pendidikan inklusif. Pemerintah daerah secara resmi meluncurkan Jejaring Konseling Online (JEJOO), sebuah program konseling canggih berbasis kecerdasan buatan (AI), yang dirancang untuk mentransformasi layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Acara peluncuran yang berlangsung di Gedung Serbaguna Tenguyun Kantor Bupati Bulungan pada Kamis (8/5/25) juga disertai dengan pendistribusian alat bantu belajar yang esensial bagi para siswa.

JEJOO bukan sekadar aplikasi konseling biasa. Dengan memanfaatkan kekuatan AI, program ini mampu menganalisis data individual siswa, termasuk data dari Profil Belajar Siswa (PBS) 2024 yang mengidentifikasi 568 siswa di Bulungan dengan kesulitan fungsional, untuk kemudian merekomendasikan pendekatan pembelajaran yang paling efektif dan personal.

Inovasi ini memungkinkan guru untuk memahami kebutuhan unik setiap siswa secara lebih mendalam, mulai dari gaya belajar, tantangan emosional, hingga potensi akademik. Dengan demikian, JEJOO memberdayakan para pendidik untuk merancang kurikulum mikro dan strategi pengajaran yang benar-benar responsif terhadap kebutuhan individual siswa, sebuah langkah maju yang signifikan dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan merata.

Keberanian Bulungan dalam mengadopsi teknologi AI secara masif untuk pendidikan inklusif ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Acara peluncuran dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Agama (Kemenag), Komisi Nasional Disabilitas (KND), serta Kedutaan Besar Australia melalui Program INOVASI.

Kehadiran para pemangku kepentingan nasional dan internasional ini menegaskan signifikansi inisiatif JEJOO sebagai model praktik baik yang berpotensi direplikasi di daerah lain di Indonesia, bahkan mungkin di kancah global.

Bupati Bulungan, Syarwani, dalam pidatonya dengan lantang menyatakan bahwa pendidikan inklusif bukanlah sebuah beban yang memberatkan, melainkan sebuah investasi strategis jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

Beliau menekankan bahwa kemajuan sejati sebuah bangsa tidak dapat dicapai jika masih ada anak-anak yang tertinggal hanya karena memiliki kebutuhan khusus. Data PBS 2024 menjadi landasan kuat bagi urgensi program JEJOO, mengingat mayoritas siswa berkebutuhan khusus di Bulungan memerlukan intervensi spesifik dan alat bantu belajar agar dapat mengakses pendidikan secara optimal dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikbudristek, Saryadi, secara eksplisit menyebut JEJOO sebagai contoh praktik baik yang sistemik, terukur, dan berpotensi untuk direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia.

Beliau menyoroti bagaimana pemanfaatan data yang akurat, kolaborasi lintas sektor yang efektif, dan integrasi teknologi AI menjadi pilar kekuatan inisiatif Bulungan ini. Apresiasi serupa juga datang dari Kementerian Agama, di mana Kepala Subdirektorat Kesiswaan Kemenag, Solah Taufik, menekankan pentingnya perluasan implementasi pendidikan inklusif hingga ke madrasah, termasuk di wilayah-wilayah terpencil Kalimantan Utara, menegaskan bahwa inklusi adalah prinsip universal yang melampaui jenis dan status satuan pendidikan.

Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Eka Prastama Widiyanta, memberikan perspektif yang sangat relevan dengan menyatakan bahwa JEJOO adalah jembatan teknologi yang krusial menuju pendidikan yang lebih setara dan berkeadilan. Beliau menyoroti tantangan yang selama ini dihadapi sekolah dalam menerima siswa disabilitas tanpa adanya pendampingan yang memadai bagi para guru.

JEJOO hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut, menyediakan dukungan berbasis data dan analisis AI yang dapat diakses oleh para pendidik. Dukungan finansial dan teknis dari Pemerintah Australia melalui Program INOVASI, yang telah bermitra dengan Bulungan sejak tahun 2017, juga menjadi faktor krusial dalam keberhasilan pengembangan dan implementasi JEJOO.

Pelaksanaan JEJOO merupakan hasil sinergi yang kuat dari berbagai elemen yang tergabung dalam Pokja Pendidikan Inklusif Kabupaten Bulungan. Kelompok kerja ini merangkul dinas-dinas teknis terkait, lembaga-lembaga sosial yang peduli terhadap isu disabilitas, organisasi-organisasi penyandang disabilitas, perwakilan dunia usaha yang memiliki tanggung jawab sosial, hingga mitra-mitra pembangunan seperti Program INOVASI.

Agus Prayitno, Manajer Provinsi INOVASI Kalimantan Utara, dengan penuh semangat menyatakan bahwa pendekatan kolaboratif ini memastikan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar slogan retoris, melainkan sebuah gerakan nyata yang melibatkan seluruh komponen masyarakat. Dampak positif dari program JEJOO telah dirasakan langsung oleh para guru di lapangan. Nurhayati Luther, seorang guru di SDN 023 Tanjung Selor, mengungkapkan bahwa JEJOO telah meningkatkan rasa percaya dirinya dalam menangani siswa berkebutuhan khusus, karena ia kini memiliki akses ke informasi dan rekomendasi yang berbasis data, sehingga ia tidak lagi bekerja dalam ketidakpastian.

Exit mobile version