Bulungan Luncurkan JEJOO, Perkuat Pendidikan Inklusif Berbasis Kecerdasan Buatan
Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mencatat tonggak sejarah baru dalam dunia pendidikan inklusif di Indonesia, dengan meluncurkan Jejaring Konseling Online atau JEJOO, sebuah program konseling berbasis kecerdasan buatan (AI), sekaligus mendistribusikan alat bantu belajar bagi peserta didik penyandang disabilitas pada Kamis (8/5) bertempat di Gedung Serbaguna Tenguyun Kantor Bupati Bulungan.
Inisiatif ini menjadikan Bulungan sebagai daerah pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi AI secara masif untuk mendukung layanan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk di wilayah-wilayah terpencil. Acara peluncuran di Kantor Bupati Bulungan turut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan nasional, termasuk perwakilan Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, Komisi Nasional Disabilitas, serta Kedutaan Besar Australia melalui Program INOVASI.
Bupati Bulungan Syarwani, S.Pd., M.Si, menyatakan bahwa pendidikan inklusif bukanlah beban, melainkan investasi strategis. “Kita tidak bisa bicara kemajuan jika masih ada anak-anak yang tertinggal hanya karena memiliki kebutuhan khusus,” ujarnya.
Berdasarkan data Profil Belajar Siswa (PBS) 2024, dari 43.723 siswa di Bulungan, sebanyak 568 teridentifikasi mengalami kesulitan fungsional. Sebagian besar dari mereka membutuhkan alat bantu belajar seperti kacamata korektif atau alat bantu dengar. Tanpa intervensi, hanya sekitar 2,8 persen dari mereka yang diperkirakan mampu melanjutkan hingga pendidikan tinggi.
JEJOO hadir sebagai alat bantu digital yang mendorong praktik pendidikan yang lebih personal dan empatik. Teknologi ini memungkinkan guru merancang pendekatan belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak, serta memperkuat peran guru sebagai pendamping tumbuh kembang peserta didik secara utuh—kognitif, sosial, maupun emosional.
Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kemendikbudristek, Saryadi, menyambut positif langkah Bulungan. Ia menyebut program ini sebagai contoh praktik baik yang sistemik dan bisa direplikasi daerah lain. “Pemanfaatan data, kerja lintas sektor, dan integrasi teknologi menjadikan inisiatif ini kuat dan terukur,” katanya.
Apresiasi juga datang dari Kementerian Agama. Solah Taufik, Kepala Subdirektorat Kesiswaan Kemenag, menekankan pentingnya keterlibatan madrasah, termasuk di wilayah-wilayah terpencil Kalimantan Utara. Hal ini mempertegas bahwa inklusi berlaku lintas jenis dan status satuan pendidikan.
Sementara itu, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Eka Prastama Widiyanta, menilai JEJOO sebagai jembatan teknologi menuju pendidikan yang lebih setara. “Selama ini sekolah diminta menerima anak disabilitas, tetapi tidak ada yang mendampingi guru. JEJOO menjawab kebutuhan itu,” ujarnya.
Program ini mendapat dukungan dari Pemerintah Australia melalui Program INOVASI yang telah bermitra dengan Bulungan sejak 2017. “Pendidikan adalah investasi jangka panjang, dan kami bangga bisa mendukung upaya ini,” ujar Hannah Derwent, Konselor Pembangunan Manusia Kedutaan Besar Australia.
Pelaksanaan JEJOO dijalankan melalui kolaborasi lintas sektor yang tergabung dalam Pokja Pendidikan Inklusif Kabupaten Bulungan. Kelompok kerja ini melibatkan dinas teknis, lembaga sosial, organisasi disabilitas, dunia usaha, hingga mitra pembangunan. “Dengan pendekatan ini, pendidikan inklusif bukan sekadar slogan, tetapi gerakan bersama,” kata Agus Prayitno, Manajer Provinsi INOVASI Kalimantan Utara.
Dampak nyata program ini juga dirasakan langsung oleh para guru. Nurhayati Luther, guru SDN 023 Tanjung Selor, mengaku kini lebih percaya diri dalam menangani siswa berkebutuhan khusus. “Dengan JEJOO, saya tidak lagi menebak-nebak kebutuhan anak. Saya didampingi sistem yang berpihak pada anak,” ujarnya.